Lisensi Klub Liga Indonesia Jadi Sorotan, Ini Skema Poinnya

I.League kembali menegaskan arah baru penerapan lisensi klub di Liga Indonesia. Dalam penjelasan yang disampaikan di Jakarta pada Rabu, 26 Agustus 2026, skema pengurangan poin untuk klub yang tidak lolos lisensi dibedakan antara Super League, Championship, dan Liga Nusantara.
Bagi pembaca yang mengikuti perkembangan regulasi sepak bola nasional lewat Jalalive, perubahan ini penting karena lisensi bukan lagi sekadar syarat administratif. I.League kini menempatkannya sebagai bagian dari penilaian profesionalisme klub yang punya konsekuensi langsung pada poin kompetisi.
Enam Jadi Tujuh, Penilaian Makin Rinci
Direktur Utama I.League, Ferry Paulus, menjelaskan bahwa sistem lisensi yang sebelumnya memakai lima aspek kini berkembang menjadi tujuh aspek. Lima aspek lama mencakup legal, finansial, infrastruktur, personel dan administrasi, serta sporting. Dengan tambahan dari AFC, penilaian menjadi lebih rigid, tetapi proses verifikasinya disebut akan lebih mudah karena indikatornya lebih rinci.
Ferry menyebut perubahan ini sebagai hasil seminar dan workshop bersama AFC terkait club licensing. Arah pembaruan tersebut menunjukkan bahwa lisensi tidak lagi berdiri sendiri, melainkan terkait dengan standar profesional klub yang lebih luas. Dengan begitu, klub tidak cukup hanya memenuhi unsur dasar, tetapi juga harus konsisten menjaga seluruh elemen pendukung kompetisi.
Bedanya Super League, Championship, dan Liga Nusantara
Skema pengurangan poin dibuat bertingkat sesuai level kompetisi. Untuk klub Super League, setiap aspek yang tidak lolos akan berujung pada pengurangan dua poin. Artinya, jika semua aspek bermasalah, klub bisa terkena minus 14 poin.
Sementara itu, klub Championship akan mendapat pengurangan satu poin untuk setiap aspek yang gagal dipenuhi. Di kasta ini, total pengurangan maksimal yang disebutkan mencapai minus tujuh poin. Ferry juga menegaskan bahwa aturan serupa berlaku untuk Liga Nusantara, dan klub yang tak memenuhi kriteria profesional bisa terhambat saat mengejar promosi.
"Pengurangan poin ini masih sama seperti kemarin," kata Ferry Paulus seusai RUPS I.League di Jakarta, Rabu (26/8/2026).
Pada level bawah, penekanan aturan lisensi memberi pesan bahwa jalur promosi tidak hanya ditentukan hasil di lapangan. Klub yang ingin naik kasta juga harus siap dari sisi tata kelola, dokumen, dan pemenuhan standar yang ditetapkan.
Implikasi untuk Klub yang Mengejar Promosi
Penjelasan Ferry juga membuka kemungkinan adanya pengaturan lanjutan jika klub promosi atau klub pengganti tidak siap memenuhi syarat. Dalam skema yang disampaikan, bisa saja klub yang sebelumnya terdegradasi kembali dipertahankan jika pihak pengganti belum layak. Opsi itu digambarkan sebagai bentuk wildcard.
Di titik ini, lisensi klub menjadi semacam penyaring awal sebelum kompetisi berjalan. Bagi I.League, sistem tersebut bukan hanya menjaga kepatuhan administrasi, tetapi juga mendorong klub-klub Indonesia bergerak ke standar yang lebih konsisten. Itu sebabnya pembahasan lisensi terasa relevan bagi pembaca yang biasa mencari analisis dan sorotan sepak bola nasional di Jalalive.
Pesan utamanya jelas: musim depan, kelolosan lisensi akan punya bobot lebih besar daripada sebelumnya. Klub yang ingin aman bukan hanya harus kuat di pertandingan, tetapi juga rapi di balik layar.
